Disusun oleh :
Choerudin
NIRM 06005
AKADEMI KEPERAWATAN RUMAH SAKIT PELNI
JAKARTA
TAHUN 2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kecenderungan meningkatnya angka gangguan mental psikiatri di kalangan masyarakat saat ini dan yang akan datang akan terus menjadi masalah sekaligus menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan khususnya komunitas profesi keperawatan. Kecenderungan (trend) gangguan mental psikiatri akan semakin meningkat seiring dengan berubahnya situasi ekonomi dan politik ke arah yang tidak menentu, prevalensinya bukan saja pada kalangan menengah ke bawah sebagai dampak langsung dari kesulitan ekonomi tetapi juga kalangan menengah ke atas sebagai dampak langsung atau tidak langsung ketidakmampuan individu dalam penyesuaiaan diri terhadap perubahan sosial yang terus berubah.
Gangguan jiwa dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu gangguan jiwa ringan (Neurosa) dan gangguan jiwa berat (Psikosis). Psikosis sebagai salah satu bentuk gangguan jiwa merupakan ketidakmampuan untuk berkomunikasi atau mengenali realitas yang menimbulkan kesukaran dalam kemampuan seseorang untuk berperan sebagaimana mestinya dalam kehidupan sehari – hari. (Maramis, 2004).
Menurut Direktur Bina Pelayanaan Kesehatan jiwa Departemen Kesehatan Yulizar Darwis (Tahun 2007), gangguan psikotik ditandai dengan gejala menarik diri dari lingkungan, kesulitan berfikiran memusatkan perhatian, gelisah dan bertingkah laku atau bicara kacau, sulit tidur, mudah tersinggung dan mudah marah, serta suka mendengar atau melihat sesuatu yang tidak nyata. Salah satu jenis gangguan psikotik adalah skizofrenia.
Klien dengan Skizofrenia mempunyai gejala utama penurunan sensori persepsi : Halusinasi. Jenis halusinasi yang umum terjadi adalah halusinasi pendengaran dan penglihatan. Gangguan halusinasi ini umumnya mengarah pada perilaku yang membahayakan orang lain, klien sendiri dan lingkungan (www.lensaprofesi.blogspot.com).
Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), masalah gangguan kesehatan jiwa di seluruh dunia sudah menjadi masalah serius. Pada 2001 WHO memperkirakan sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan jiwa.
Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995 didapatkan prevalensi gangguan jiwa 264 per 1.000 anggota rumah tangga. Rinciannya, psikosis tiga per 1.000, demensia (pikun) empat per 1.000, retardasi mental lima per 1.000, gangguan mental emosional pada anak dan remaja (4-15 tahun) 104 per 1.000, gangguan mental emosional pada dewasa (di atas15 tahun) 140 per 1.000, dan gangguan jiwa lain lima per 1.000. (Sumber : Kompas, Kamis, 11 Oktober 2001).
Dalam hal ini, menurut Prof Dr Azrul Azswar MPH, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Depkes, angka itu menunjukan jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di masyarakat Indonesia sangat tinggi. Yakni satu dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa dari rasa cemas, depresi, stres, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia.
Prevalensi skizofrenia adalah 0,2-2 persen dari populasi. Jika diasumsikan prevalensi di Indonesia 1 persen dan jumlah penduduk 220 juta jiwa, setidaknya ada 2,2 juta penduduk Indonesia menderita skizofrenia. Jumlah itu tidak mungkin tertampung di rumah sakit jiwa di bawah Depkes, yaitu RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta, RSJ Bogor, RSJ Magelang, RSJ Malang, ataupun rumah sakit jiwa milik pemerintah daerah lainnya.
Di DKI Jakarta, tiga panti, yaitu PSBL Harapan Sentosa 1 Cengkareng, PSBL Harapan Sentosa 2 Cipayung, dan PSBL Harapan Sentosa 3 Ceger, serta Sasana Daan Mogot dan RSJ Duren Sawit menampung penderita psikotik jauh melebihi kapasitas.( www.prakarsa-rakyat.org).
Dari data Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta Timur pada bulan oktober tahun 2008 jumlah pasien 382 orang. Yang terkaji oleh mahasiswa Akper Rumah Sakit Pelni ada 76 orang dengan gangguan sensori persepsi : halusinasi sebanyak 26 jiwa ( 34,2 %), harga diri rendah sebanyak 25 jiwa (32,8 %) dan isolasi sosial sebanyak 25 jiwa (32,8 %). Data sampai bulan Juni tahun 2009 jumlah pasien 398 jiwa dengan laki-laki sebanyak 281 jiwa (70.6 %), perempuan 117 jiwa (29.4%).
Berdasarkan peningkatan angka penderita gangguan jiwa diatas bahwa tidak hanya terjadi dirumah sakit jiwa, bahkan terjadi juga di panti-panti sosial seperti di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Jakarta Timur. Panti itu menampung penderita gangguan psikotik yang telantar, biasa disebut warga binaan sosial (WBS), hasil penertiban Tim Kentraman dan Ketertiban Pemerintah Daerah DKI Jakarta saat melakukan razia di jalan-jalan Jakarta. Dan bekerjasama dengan Rumah Sakit Duren Sawit, dimana mereka yang terjaring akan ditempatkan disana. (www.prakarsa-rakyat.org).
Dari 13 kasus yang diambil oleh mahasiswa Akademi Keperawatan Rumah Sakit PELNI angkatan XI tahun 2009, 5 mahasiswa mengambil kasus perubahan sensori persepsi : halusinasi, 4 mahasiswa mengambil kasus isolasi sosial : menarik diri dan 4 mahasiswa mengambil gangguan konsep diri : harga diri rendah. Klien dengan halusinasi bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat dan asuhan keperawatan yang komprehensif akan menimbulkan dampak resiko tinggi mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan serta perilaku kekerasan.
Peran perawat sangat dibutuhkan dalam hal ini, dari peran promotif perawat yaitu memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang masalah gangguan jiwa sehingga stagmatisasi yang kelirupun dapat dihapuskan, peran preventif yaitu dengan menganjurkan keluarga atau individu agar bila mempunyai masalah menggunakan koping yang adaptif, peran kuratif yaitu memantau kesehatan klien yang sedang pengobatan dan dari segi rehabilitatif yakni agar klien dengan gangguan sensori persepsi : halusinasi pendengaran, dapat melakukan kembali kegiatan sehari-hari dengan frekuensi kekambuhan yang minimal.
Berdasarkan rentannya kekerapan kejadian gangguan jiwa di Indonesia, dampak lanjutan bila penderita tidak segera ditangani dan pentingnya peran perawat dalam hal ini, maka penulis tertarik untuk mengambil kasus asuhan keperawatan pada Ny. R dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran di ruang Kakaktua Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penulis ingin mendapatkan pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi: halusinasi pendengaran di ruang Kakaktua Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta.
2. Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Ny. R dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran, diharapkan penulis mampu:
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan halusinasi pendengaran
b. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
c. Menyusun rencana keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
d. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
e. Melakukan evaluasi pelaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
f. Mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus pada klien dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
g. Mengidentifikasi faktor – faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusinya
h. Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran.
C. Ruang Lingkup
Penulisan makalah ilmiah ini merupakan pembahasan pemberian asuhan keperawatan pada Ny. R dengan perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran di ruang Kakaktua Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung Jakarta yang dilaksanakan pada tanggal 13 – 15 Juli 2009.
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yang menggambarkan penerapan asuhan keperawatan pada klien Ny. R dengan perubahan sensori persepsi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data, menganalisa dan menarik kesimpulan kemudian dituangkan dalam bentuk narasi, penulis memperoleh informasi melalui wawancara, observasi, studi dokumentasi yakni mempelajari data klien dan file, studi kasus yakni memberi asuhan keperawatan secara langsung pada klien dengan perubahan sensori persepsi. Metode kepustakaan yakni menggunakan beberapa buku sumber sebagai referensi dalam pembuatan makalah ini.
E. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun secara sistematis yang terdiri dari lima Bab yaitu : Bab I Pendahuluan berisi latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan dan sistematika penulisan, Bab II Tinjauan teori yang terdiri dari konsep dasar berisi pengertian, psikodinamika, rentang respon serta asuhan keperawatan berisi pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan. Bab III Tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Bab IV Pembahasan berisi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi. Bab V Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.
